Wednesday, 28 July 2010

Pertama kali surat-suratan sama anak


“Lucu Bab,” itu reaksi istri saya, ketika ia membacakan surat saya yang saya tujukan untuk anak saya, usia 3 tahun 2 bulan. Anak saya belum bisa membaca – baru dalam tahap mengenalkan huruf, sehingga memerlukan bantuan bundanya untuk membacakan surat tersebut.

Nggak tahu kenapa saya begitu ‘passionate’ terhadap surat. Pengalamaan yang berkenaan dengan surat sangat membekas di benak saya (seperti yang pernah saya tuangkan dalam postingan di Kompasiana juga beberapa waktu yang lalu, di sini). Surat sangat terasa manfaatnya untuk berbagi apa yang ada di pikiran dan di hati dan salah satunya adalah mengurangi stress.

Reaksi yang diperlihatkan oleh anak saya itu, seperti khasnya anak-anak. Walaupun nampak tidak terlalu mengerti apa itu surat, apa maksudnya surat, tapi dia terlihat seperti mencoba mengerti apa yang ada dalam isi surat itu. Itu menurut bundanya.
Reaksi yang diperlihatkan seperti ketika bundanya itu membacakan surat pertama yang saya kirimkan untuk anak saya, seperti di bawah ini (tulisan dengan cetak miring merupakan reaksi anak saya ketika mendengarkan surat dibacakan – tidak secara detail, karena saya tidak menyaksikan langsung – tetapi kira2 seperti itulah):

Assalamualaikum Aa Ghia.
[ikum salam Bab]

Apa kabar Aa?
[diam – terus tanya sama bundanya – Bababnya mana Bunda? Bundanya menjawab,”bababnya ga ada, ini suratnya aja. Terus dia bertanya lagi,”surat apa sih Bunda?” – kemudian Bundanya menjelaskan lagi apa itu surat dan dimana posisi Bababnya sekarang]

Sudah mamam belum?
[sudah Bab, tadi sama Bunda]

Sudah mandi belum?
[sudah]

Mamamnya pake apa tadi?
[hm..hm… pake ayam]

Aa tadi main apa saja?
[main sword – pedang – nanti malam Babab datang kan? – nah lho, kemudian bundanya kembali menjelaskan bahwa yang datang kali ini hanya surat bababnya, bukan bababnya langsung]

Dan seterusnya….

Paragraph terakhir:

Begitu dulu ya A, be a good boy, jangan lupa baca doa sebelum tidur. Juga, minta Bunda untuk cerita sebelum bobo ya.

[iya bab – Bunda, tapi Bababnya mana? Terus lari ke mainan-mainannya – mungkin merasa bosan, Kemudian Bundanya bilang,”eh… Ghia.. jangan lari dulu. Suratnya belum selesai nih, bundanya menambahkan, "Babab bilang I love you Aa"

[Dari jauh kemudian ia berteriak – luv you too]

Bundanya tertawa. Ketika diceritakan ke saya, sayapun tertawa.

Ghia… Ghia …

Tapi walaupun demikian, keinginan saya tercapai, mengenalkan media lain untuk berkomunikasi antara anak dengan orang tuanya, yaitu melalui surat.

Salam hangat. Bugi.
[Published in Kompasiana: 28 July 2010]

Wednesday, 14 July 2010

Berawal dari surat untuk nenek

Waktu kecil, salah seorang kakek saya – maksudnya adik dari nenek saya, yang juga tentu disebut kakek, yang tinggal di Belanda dan seorang nenek saya – yang merupakan kakak dari nenek saya - tinggal di Cirebon, tepatnya di daerah Bojong, Cilimus, menjadi ‘sahabat’ korespondensi saya.

Ya, mereka sangat intens menjawab surat-surat saya, yang mungkin termasuk memotivasi saya untuk memasukkan surat menjadi salah satu yang tercatat dalam daftar hobi saya.
Lupa tepatnya kapan saya mulai senang dengan korespondensi seperti itu. Tetapi, berkirim surat dengan mereka, sudah dimulai ketika saya di usia SD, ya, kira-kira tahun 1975an.

Untuk nenek saya yang di Cirebon, waktu itu, teringat saya, saya sempat bertanya pada orang tua saya, apa yang saya perlu tulis dalam surat saya. Orang tua saya bilang, kurang lebih seperti ini,”apa saja yang ada didalam pikiranmu, cerita apa aja, pasti (nenek) senang kok terima surat dari kamu. Bisa cerita soal sekolah, pengalaman, musim, apa sajalah”.

Untuk kakek saya, lain lagi. Ketika itu, ketika saya di khitan, saya mendapat sebuah kado, dari kakek saya itu (belakangan saya baru tahu bahwa, kakek saya itu tidak mengirimkan kadonya langsung dari Belanda, tetapi meminta tolong salah satu anaknya yang ada di Indonesia untuk membelikan kado itu untuk saya). Senang benar hati ini menerima kado tersebut. Nah, kemudian orang tua saya meminta saya menulis surat kepada beliau sebagai ucapan terima kasih. Dari situ kemudian korespondensi berlanjut.

Lama kelamaan, berkirim surat menjadi kebiasaan dan menjadi hobi. Terasa keasyikan tersendiri ketika menulis surat, untuk siapa saja. Nikmat, bisa berbagi, bercerita, dan lain sebagainya.

Dulu, seninya berkirim surat, harus ke kantor pos untuk membeli perangko dan memposkan surat, disamping memposkan surat di kotak pos terdekat. Sekarang, lebih asyik lagi. Tetap dengan cara konvensional: tetap menggunakan jasa pos, ataupun dengan cara yang lebih terasa kekiniannya, misalnya melalui email, facebook, ataupun sms.

Sms? Ya, sering sms digunakan dengan fungsi yang sama dengan surat hanya dengan kapasitas yang lebih terbatas.

Manfaat menulis surat yang saya rasakan diantaranya adalah sebagai sarana untuk mengungkapkan perasaan, pikiran, keinginan – sarana untuk berbagi, dan nampaknya baik juga untuk mengurangi ataupun menghilangkan stress. Manfaat lainnya adalah tentunya untuk tetap menjalin tali silaturahmi, yang konon menjalin tali silaturahmi ini bisa menjaga penampilan agar tetap awet muda (hm hm … ini yang saya cari).
Manfaat itu termasuk kesempatan yang didapatkan dengan mengembangkannya menjadi sarana untuk melatih mengungkapkan apa yang ingin kita ungkapkan dengan alur penyampaian yang (dicoba untuk dibuat secara) lebih teratur ataupun terstruktur. Dimana kemudian, latihan itu, akan sangat membantu untuk kelancaran penyampaian secara tertulis maupun secara oral.

Manfaat ini juga yang saya rasakan didapat ketika menulis, termasuk menulis di blog dan di Kompasiana (walaupun tulisannya masih jauh dari bisa dinikmati oleh orang lain, tetapi minimal bisa dinikmati oleh diri sendiri).
Untuk itu, saya perlu berterima kasih kepada orang tua saya, nenek dan kakek saya (yang sekarang telah tiada).

Salam hangat.

[dimuat di Kompasiana: 14 Juli 2010]