Showing posts with label Reflection. Show all posts
Showing posts with label Reflection. Show all posts

Thursday, 28 February 2008

Nasehat dari seorang teman di Rotary

Dear all,

Ada nasehat bagus nih dari seorang teman di Rotary: Ivan B., sbb:

Cinta bisa menumbuhkan kepedulian
Seni bisa menambah keindahan dan ketenangan

Ada wejangan dari salah satu buku kuno, sebagai berikut :

Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran adalah dungu.

Orang yang tak berpengalaman percaya kepada setiap perkataan, tetapi orang yang bijak memperhatikan
langkahnya.

Orang bijak berhati-hati dan menjauhi kejahatan, tetapi orang bebal melampiaskan nafsunya dan merasa aman.

Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, karena akan menabung banyak penyakit.

That's all, moga bermanfaat .... ;-D
best regards,
Babab

Friday, 22 February 2008

1 Menit saja

Dear All,

Miris ning ati nih (you may read the following reflection - from the neighbour mailing list):

SEMENIT SAJA

Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp.100.000 apabila dibawa ke masjid untuk disumbangkan; tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan!

Betapa lamanya melayani Allah SWT selama lima belas menit namun
betapa singkatnya kalau kita melihat film.

betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa (spontan) namun
betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan pacar / teman
tanpa harus berpikir panjang-panjang.

Betapa asyiknya apabila pertandingan bola diperpanjang waktunya ekstra namun kita mengeluh ketika khotbah di masjid lebih lama sedikit daripada biasa.

Betapa sulitnya untuk membaca satu lembar Kitab Suci tapi betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris.

Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konser namun lebih senang berada di shaf paling belakang ketika berada di Rumah Ibadah

Betapa mudahnya membuat 40 tahun dosa demi memuaskan nafsu birahi semata, namun alangkah sulitnya ketika menahan nafsu selama beberapa hari ketika berpuasa ..
Betapa sulitnya untuk menyediakan waktu untuk berdoa; namun
betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap pada saat terakhir untuk event yang menyenangkan.

Betapa sulitnya untuk mempelajari arti yang terkandung di dalam Kitab Suci; namun betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi gosip yang sama kepada orang lain.

Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh koran namun
betapa kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci.


Betapa Takutnya kita apabila dipanggil Boss dan cepat-cepat menghadapnya namun betapa kita berani dan lamanya untuk menghadapNya saat waktu beribadah.

Betapa setiap orang ingin masuk sorga seandainya tidak perlu untuk percaya atau berpikir,atau mengatakan apa-apa,atau berbuat apa-apa.
Betapa kita dapat menyebarkan seribu lelucon melalui e-mail, dan menyebarluaskannya dengan FORWARD seperti api; namun kalau ada mail yang isinya tentang Keagungan Allah betapa seringnya kita ragu-ragu, enggan membukanya dan mensharingkannya, serta langsung klik pada icon DELETE.

ANDA TERTAWA ...? atau ANDA BERPIKIR-PIKIR. ..?
Sebar luaskanlah Sabda-Nya, bersyukurlah kepada ALLAH, YANG MAHA MENGETAHUI, MENDENGAR, PENGASIH DAN PENYAYANG.
Apakah tidak lucu apabila anda tidak memFORWARD pesan ini. Betapa banyak orang tidak akan menerima pesan ini, karena anda tidak yakin bahwa mereka masih percaya akan sesuatu?

Hope it'll useful.
wassalam,
Bababna Ghia

Tuesday, 22 January 2008

Refleksi: Hidup ini singkat (lho)!


Orang tua dulu bilang kalau hidup itu adalah suatu yang ‘nyeni’ … full of art … terutama kalau orang itu sudah mengalami hidup berumah tangga …. Artinya apa seh …? Itu loh … bahwa setiap orang itu dalam menjalani hidupnya pasti berbeda-beda. Ga ada yang sama biar bersaudara kembarpun. Setiap orang melakoni jalan hidupnya masing-masing …. Sesuai dengan keinginannya. Keinginannya? Ya betul, keinginannya. Ada guideline yang orang biasa rujuk untuk hidup yaitu: Al Quran + Al Hadist (sorry, that’s because I am a muslim), tapi untuk sampai ke every details in seconds … you shall be creative on it. But that’s life. [Dalam hal ini ane bukannya sok alim sih … Cuma … walaupun mungkin ane masih dalam kriteria ‘bad’ in religion, tapi setidak-tidaknya masih berusaha untuk selalu di hati ada ‘sedikit’ hope untuk tetap bisa hidup sesuai dengan jalanNya … gicu … deh]

Ada pandangan kerohanian (hadist? I forgot) yang menyatakan (dan ini yang saya biasanya sadari dan ikuti) bahwa jika kita melihat seorang pengembara sedang beristirahat (berteduh) di bawah sebuah pohon yang sangat rindang karena kelelahan (pohon beringin kah …?!) untuk sekedar melepas rasa penat dan lelah, dan apabila sang pengembara tersebut sudah hilang rasa penat dan lelahnya maka dia akan melanjutkan perjalanannya … mengembara …. Nah gambaran kita hidup di dunia fana ini adalah sama dengan ketika sang pengembara itu beristirahat di bawah pohon yang rindang tadi. Very short, isn’t it? Kemudian perjalanan sang pengembara sebelum beristirahat di bawah pohon adalah gambaran sebelum manusia dilahirkan dan perjalanan sang pengembara setelah beristirahat di bawah pohon adalah gambaran setelah manusia menemui sang malaikat al maut.

Maksud loh apa seh …? Mungkin maksudku itu …. Kalau gambaran hidup kita seperti itu … kenapa kita terlalu fokus ke arah kehidupan duniawi ya … ga inget akan kehidupan setelah mati … wow … banyak pertanyaan yang lalu muncul:
- apakah bekal kita untuk akhirat sudah cukup?
- apakah hidup kita sudah bisa berarti buat orang lain? (banyak kita jumpai untuk ngurus diri sendiri aja repot apalagi untuk ngurusin orang lain … I hope my life will be not like that)-
- dan seterusnya … dan seterusnya ….

So, jadi ‘ngeri’ ya … karena hidup ini sangat singkat, ga tau deh .. Cuma aja I’ll try to be wise with my (our) life and .. keep being optimistic with the life

This advice is just for myself.

Many thanks

Babab
[Keterangan foto: Sumsion Gardens, Huon Street, Wodonga, Victoria, Australia - 28 December 2007]

Thursday, 12 April 2007

Xa Lie, Muslim from China

I met her in the bus (Greyhound coach) when I had traveling from Canberra to Albury on Monday, 9 April 2007. She is Chinese from Hui ethnic group (sorry, I don’t know how to spell it correctly), and she traveled alone. What make me surprise that she is Muslim. Yes, she is Muslim. I rarely meet Muslim from China, ups yes… I met one man during the youth camp in Jervis Bay; he studies at ANU, but he grown up here, in Australia. Xa Lie is doing research at University of Melbourne, one year research. She is a medical doctor, specialization in eyes.

We were talking many subjects. One of it is about food in Australia. As a Muslim, we find the same difficulties, finding the ‘no pork’ food in our diet. It is easy to differ between pork and other meat such as chicken, beef and lamb, we just read the label. However, many Muslims always raise question such as is it slaughtered in the name of Allah? Is it slaughtered in a good manner? When it is being slaughtered, it is not mix with pig? And so on. Furthermore, emulsifiers (sort of thing that mix in the food as one of the ingredients) make us confused. For example, some people said that emulsifier 471 is made from vegetables, but some people said that it is made from animal fat, so it is haram as well. What was Xa Lie’s opinion on aforementioned confusion, she said that there is a Chinese proverb; it says that if you do not see, it means that it is clean. In addition, she said that as long as no pork in our diet, it is acceptable. In my opinion, I will agree with her opinion. What do you think?
Cheers,
Bababna Ghia